Selasa, 07 Mei 2013 - 12:57:16 WIB
Kamad ; Pijakan Sekarang Menuai Kemudian untuk Masa Depan Lebih Baik
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kegiatan Siswa - Dibaca: 550413 kali

Analisis diri dipandang perlu bagi MA Sunan Pandanaran dalam merealisasikan impian akan kebaikan di masa yang akan datang. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap sekolah apalagi madrasah berharap dapat menyetarakan level kualitas pendidikan umumnya dengan ‘anak’ SMA dan di sisi lain juga mampu menyetarakan level kualitas pendidikan agamanya dengan ‘anak’ santri, sebagai penjaga akhlak dan penerus obor alim ulama dengan penguasaan ilmu agamanya. Ilmu umum  dan ilmu agama (Qur’an dan kitab kuning) –susah untuk tidak mendikotomikan!-.

Berpijak dari hal di atas dengan ‘mengkritik’ diri sendiri pada akhirnya MA Sunan Pandanaran mencoba mengurai satu per satu kesulitan juga harapan-harapan dengan mencoba berbagai macam perubahan. Perubahan yang berprinsip ‘by proccess’, bukan serta merta dan tiba-tiba.

Perubahan kurikulum dan materi ajar. Beban belajar siswa madrasah adalah 2x lipat dari siswa SMA bahkan bisa lebih. Dan banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa beban belajarnya siswa Indonesia memprihatinkan karena sudah sangat berat bahkan lebih berat daripada berat badannya. Apalagi siswa madrasah plus yg di pesantren, teramat sangat berat! Oleh karena itu MA Sunan Pandanaran mencoba mengevaluasi kurikulum dengan mengurangi materi ajar yang tidak perlu dan menambah atau mengganti dengan materi lain yang serupa namun kualitasnya lebih baik. Seperti pengurangan materi ajar bagi siswa yang bukan jurusannya, pengurangan jam pelajaran fiqh dengan diganti pembelajaran kitab kuning bidang fiqh, dan sebagainya. Perubahan tersebut didukung dengan pembuatan modul bagi siswa untuk mendukung pembelajaran. Modul diharapkan bisa menjadi pegangan primer siswa yang telah diarahkan pada materi dan soal yang kualitasnya seperti Ujian Nasional sejak di kelas X. Dan yang terpenting karena tidak adanya donatur maupun BOS maka modul bersifat teramat sangat terjangkau harganya (sekitar 1 Riyal  per modul!). Adapun sekundernya dengan menambah jumlah buku referensi baru dan mentasharufkan buku ‘berkurikulum lama’ kepada siswa. Semua demi memintarkan siswa…

Tinjau ulang berbagai program di madrasah. Dari program kepala madrasah beserta wakilnya yang semula menerima secara ‘saklek’ dari aturan yang ada. Perombakan program yang lebih simple, realistis, efectif dan progressif terutama dari wakaur kurikulum dan kesiswaan. Perombakan tersebut diturunkan pada program yang ‘sampai’ pada siswa. Diantaranya ‘melepaskan diri’ dari ketergantungan terhadap bimbingan belajar (bimbel) yang sedang menjamur di Indonesia dengan mengganti program seperti try out dari berbagai sumber, les sekolah, dan pendampingan. Semua berprinsip dan berikhtiar pada ‘biaya kaki lima, kualitas bintang lima’. Semua tanpa melepas program pesantren yaitu ngaji diniyyah dan ngaji Qur’an. Dan tidak pandang juga terhadap siswa kelas XII. Dengan demikian diharapkan mindset  siswa tidak hanya ‘urusan’ Ujian Nasional saja meskipun Ujian Nasional tetap juga diseriusi. Alhamdulillah, sedikit hasil telah dituai oleh MA Sunan Pandanaran dimana pada UAMBN 2013 IPS peringkat 6, IPK peringkat 4 dan IPA peringkat 3 se-propinsi DIY. Dan pada tahun pelajaran 2012-2013 terdapat 8 siswa yang memperoleh beasiswa masuk perguruan tinggi negeri baik beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Dikpora maupun Santri Berprestasi dari Kemenag.  

Selain itu, Madrasah Diniyyah yang memang sudah 2 tahun ‘dipasrahkan’ ke Madrasah sedikit demi sedikit juga diperbaiki. Perbaikan tersebut diantaranya yaitu perbaikan jenjang diniyyah juga materi ajarnya, penyeragaman metode mengajar asatidznya dan mengganti asatidznya, yang semula adalah pengurus pesantren dengan berbagai tugasnya sebagai pengurus dan juga santri, diganti oleh guru madrasah formal (pagi) yang mumpuni ngaji kitab kuning. Karena semua guru agama pagi mampu membaca kitab kuning bahkan beberapa guru yang mengampu pelajaran umum juga mumpuni membaca kitab kuning. Sehingga dianggap menjadi modal penting untuk kemajuan diniyyah di MA Sunan Pandanaran. Akhirnya, asatidz Diniyyah diharapkan memiliki pola kerja yang terprogram ala guru pagi juga memiliki bekal santri dengan mindset dan kitab kuningnya. Selain madrasah diniyyah, MA Sunan Pandanaran mencoba membuka kelas tahfidz, dengan konsekuensi dilaksanakan pada jam pulang sekolah dan hanya 2x per minggunya. Mengingat pada pagi hari sudah ada penjurusan IPA, IPS, IPK sejak kelas X semester genap. Kelas tahfidz diharapkan mampu mendukung ngaji tahfidz di pesantren. Ini juga diharapkan agar hafalan al-Qur’an para siswa terjaga dan juga mengalami progresifitas terutama bagi siswa yang berasal (lulusan) MTS Sunan Pandanaran.

Selain program wakaur kurikulum di atas, yang juga sangat berkaitan adalah program kesiswaan. MA Sunan Pandanaran mencoba membentuk kesadaran siswa untuk berbusana, bersikap, berdisiplin secara baik. Juga membentuk milieu kejujuran termasuk pada saat Ujian karena jujur adalah harga mutlak. Semua demi mencerdaskan anak bangsa. Milieu berpikir akademik juga berusaha disebarkan di MA Sunan Pandanaran melalui pelajaran karya ilmiah remaja (KIR) dan ekstra kurikuler olimpiade.

Alhamdulillah sedikit demi sedikit buahnya mulai dituai. Pada tahun ini (2013) prestasi yang diraih diantaranya:  tim Matematika MA Sunan Pandanaran yang terbaik se Propinsi DIY dan masuk 10 besar untuk tingkat madrasah se Indonesia yang diadakan di Jakarta. Adapun tim Fisika Alhamdulillah meskipun baru pertama kali namun lolos pada final olimpiade Fisika SMA-MA se Indonesia di Surabaya. Selain itu 2 tim KIR MA Sunan Pandanaran juga masuk jurnal Penelitian Pendidikan di Propinsi DIY dan dipilih sebagai tim yang layak untuk dilanjutkan penelitiannya dan layak untuk dipamerkan hasil penelitiannya pada pekan pameran penelitian ilmiah remaja.

Prestasi siswa MA Sunan Pandanaran 2013 tersebut juga diimbangi oleh ketercapaian di bidang agama dan non akademik. Pada tingkat Propinsi DIY juara 1 Qiroatul Kutub, juara 1 cerdas cermat agama, juara 1 pidato bahasa Arab, dan juara 2 Tilawah Qur’an. Selain itu, beberapa siswa lolos di tingkat nasional pada pekan olahraga santri dan salah satu siswi MA Sunan Pandanaran memenangkan putri kecantikan sebagai duta putri bertatakrama terbaik di propinsi DIY. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya setiap orang memiliki potensi yang harus digali yang dapat dituai di kemudian hari, termasuk para santri! (ema




    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)